Buruh dan karyawan. Samakah?

Setiap tahun, kita selalu memperingati hari buruh dan ada demo buruh. Uniknya, tidak ada hari karyawan dan tidak ada demo karyawan yang menuntut kenaikan upah secara konsisten seperti halnya buruh.

Dilihat secara KBBI, sebetulnya buruh dan karyawan adalah sama, yaitu seseorang yang bekerja dan menerima upah. Bedanya adalah, jika buruh adalah golongan blue Cola (kerah biru) atau istilah kasarnya adalah pekerja kasar, sementara jika karyawan adalah White Colar (kerah putih) atau pekerja yang lebih banyak memanfaatkan skill dalam bekerja.

Akan tetapi, hal tersebut juga rancu. Tidak semua karyawan adalah kerah putih. Untuk beberapa posisi, maka mereka juga digolongkan kerah biru. Hanya saja, tetap saja mereka digolongkan sebagai karyawan dan bukan buruh.

Yang membuat semakin bingung adalah, ternyata di KBBI juga dibedakan antara buruh dan karyawan, yaitu soal kepada siapa mereka bekerja. Jika buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Sedang karyawan adalah orang yang bekerja pada suatu lembaga (kantor, perusahaan dsb). Ini super rancu.

Disinilah letak dilemanya. Buruh yang secara konsisten berdemo meminta kenaikan upah, sementara karyawan yang sebetulnya banyak dengan gaji kecil jika berdemo tentu akibatnya akan ditangggung sendiri. Bahkan, banyak kantor-kantor yang mempekerjakan karyawan dengan gaji dibawah apa yang disebut dengan buruh.

Kita sering berempati dengan buruh, tapi banyak yang tidak berempati dengan karyawan. Bahkan fenomena sosial media, mereka menganggap kehidupan karyawan jauh lebih baik daripada buruh. Lucunya, yang mengatakan hal tersebut adalah karyawan juga.

Disini letak diskriminasinya. Tidak kurang lembaga seperti HAM dan lembaga tenaga kerja lainnya lebih fokus pada buruh. Mereka menganggap, buruh harus dikasihani. Benarkah? Mungkin semua itu bullshit saja. Kenapa?  Buruh adalah suatu kekuatan yang dapat dimobilisasi besar-besaran. Semua hanya tentang politik semata. Karyawan hanyalah suatu posisi yang pada akhirnya hanya dibela oleh undang-undang ketenagakerjaan yang dikelola oleh DEPNAKER, yang adapun jika ada keluhan mengenai keberatan oleh karyawan akan dikembalikan kepada kebijakan perusahaan masing-masing.

Hari buruh, demo buruh adalah Bunch of Lies. Hari buruh diperingati dengan demo dan unjuk kekuatan. Para oportunis politik lebih banyak yang berembunyi dibelakang punggung para pekerja kerah biru dengan memberi dorongan dengan modal demo yang besar, menyiapkan sara transportasi dan konsumsi.

Think logic. Siapa yang memobilisasi semua hal itu kalau bukan penjahat kerah putih? Benarkah mereka peduli dengan nasib buruh dan semua pekerja kasar? Kenapa kok tetap banyak tenaga kerja yang dibayar di bawah upah minimum?

Tentu bukannya membela kaum buruh itu adalah sesuatu yang tidak baik, melainkan pada prakteknya, hari buruh itu menjadi suatu komoditi politik yang tidak lagi memiliki substansi kesehjateraan kaum pekerja tanpa memandang kerah putih atau kerah biru.

Jika buruh masih dianggap sebagai pekerja kasar, dunia seolah tidak berputar. Seolah, kita masih pada jaman feodalisme dimana masih ada jarak antar strata sosial dan gelar kebangsawanan. Mungkin dulu sebutan buruh adalah rakyat jelata yang bekerja dipabrik atau pelabuhan sebagai pekerja kasar, hal itu karena belum meratanya tingkat pendidikan dan berkembangnya peradaban. Tetapi sekarang?

Jika buruh dan karyawan tetap dianggap berbeda sementara soal nasib dan upah adalah beda tipis, maka sebagai karyawan saya rasa sah-sah saja kalau mereka tidak harus empati dengan buruh. Toh kalau Anda seorang karyawan maka kenaikan gaji atau upah adalah berdasarkan usaha sendiri bukan karena demo. Jadi buat apa karyawan itu empati dengan buruh?

Apa poin dari tulisan ini? Pointnya adalah, jika ada yang memobilisasi buruh kerah biru, adakah suatu organisasi yang memobilisasi buruh kerah putih? Memberi garansi keamanan pekerjaan jika bolos karena berdemo? Siapkah para petinggi persatuan buruh untuk memobilisasi karyawan dan menerima pertanyaan yang mungkin akan jauh lebih kritis dari pada buruh kerah biru? Ingat. Seorang sarjana Strata 2 jika dia bekerja sebagai karyawan maka dia juga seorang buruh. Siapkah para petinggi buruh mengatur para praktisi ilmu yang menjual pengetahuannya dikantor-kantor baik perusahaan besar maupun kecil?[Adw}

Share this:

Related Post

Push To Talk ( Part 1) Perkembangan PTT yang sebelumnya hanya digunakan untuk walkie-talkie, kini dapat digunakan dalam smartphone. Munculnya adaptasi PTT pada smartphone in...
Music Sexisme Musik bisa membantu mengubah gaya hidup menjadi lebih baik, lebih terkendali, lebih sehat dan lebih bahagia. Tetapi musik juga bisa membuat hidup sese...
Politik dan Kapitalisme dunia musik Berbeda tetapi tetap satu. Itulah musik. Apapun genrenya, musik tetaplah suatu media hiburan. Tidak mencerminkan taste atau tingkat pendidikan. Justru...
Guitar & Sexual Appeal Buat para gitaris, berbahagialah karena ternyata, banyak wanita tertarik karena anda seorang gitaris tanpa memandang "tampang" dan "kantong". Git...
Pengendara motor suka main serobot. Sikap atau pol... Kita sering melihat bagaimana tidak tertibnya yang namanya pengendara motor, atau bahkan mungkin kita adalah salah satu diantaranya. Apakah benar kita...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *