Trilogisme Spiritual

Epicurus is credited with first expounding the problem of evil. David hume in his dialogues concerning natural religion (1779) cited epicurus in stating the argument as a series of questions: “is god willing to prevent evil, but not able? Then he is impotent. Is he able, but not willing? Then he is malevolent. Is he both able and willing? Then whence cometh evil? Is he neither able nor willing? Then why call him god?”

Apa hubungannya antara Atheistik, Theistik dan Agnostik dengan gaya hidup? Apakah faith itu mempengaruhi gaya hidup seperti apa yang akan kita jalani? sebelum mengatakan iya atau tidak, mari kita lihat bagaimana korelasinya antara ketiga isme tersebut dengan Lifestyle.

Atheis adalah suatu pernyataan ketiadaan keberadaan Tuhan atau Dewa, Theis adalah pengakuan terhadap adanya Tuhan (mono theis) sementara Agnostic adalah penyataan keraguan terhadap kekuatan Tuhan. Untuk yang menganut Theisme, mereka yakin keberadaan komunitas Atheis ini tidaklah banyak dan minoritas. Tapi bagaimana jika itu salah? Bagaimana jika kaum yang disebut Theis adalah sebetulnya Atheis dan Agnostic? Well, let’s find out!

Pada awal munculnya Atheis di Yunani yaitu abad 5 SM, kata Atheis  digunakan oleh kaum Helenis (agama Yunani Kuno) untuk menyebut umat Kristiani sebagai Atheis secara peyoratif (menghina), kenapa? karena kaum Helenis ini menganggap bahwa memiliki Tuhan diluar keberadaan Tuhan yang sudah lebih dulu ada (mapan/establish) dianggap sebagai anti-monotheis. In fact, ketika kaum Nasrani muncul dengan membawa Tuhan mereka sendiri, mereka dicap sebagai anti-monotheis atau tidak mengakui bahwa Tuhan itu satu! Dan sepertinya, hal ini terus berlangsung hingga ratusan tahun hingga sekarang.

Secara praktis, konsep Atheis dari masa Yunani ini tetap berlaku dan tidak akan berubah, tetapi secara teoritis, konsep Atheis yang semula diartikan sebagai anti-monotheis kini menjadi anti-polytheis atau tidak percaya kepada “adanya semua Tuhan”.

BAGAIMANA SESEORANG DAPAT DISEBUT ATHEIS?

Atheis, dibagi dalam 2 kategori, yaitu Atheis Praktis dan Atheis Teoritis. Atheis praktis ini muncul secara natural pada individu seseorang, salah satu contohnya adalah ketika keberadaan adanya Tuhan tidak memotivasi secara moral dalam melakukan tindakan dan pengabaian nilai-nilai ke-Tuhan-an dalam kehidupan sehari-harinya. Dari atheis praktis ini, bisa kita hitung berapa banyak kaum Theis yang atheis! para Atheis praktis ini biasanya muncul secara natural terhadap individu tanpa harus melalui penalaran dan logika yang mendalam. Atheisme praktis bisa disebut juga sebagai Atheis Implisit atau menolak keberadaan Tuhan secara tidak sadar.

Kemudian Atheis teoritis, kaum ini secara eksplisit membuat pernyataan atau argumen akan ketiadaan Tuhan dan tidak mengakui campur tangan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Atheis teoritis muncul dari penalaran ilmiah dan scientific. Penganut Atheis teoritis ini biasanya adalah kaum Sekuler dari kalangan Pluralis, Humanis, Naturalis atau Rasionalis. Atheis teoritis, bisa disebut juga sebagai Atheis Explisit yaitu secara sadar tidak mengakui keberadaan Tuhan dan campur tangannya. Ada berapa banyakah kaum ini disekitar kita? jawabnya adalah banyak!

Kemudian, jika Theis adalah kepercayaan kepada Tuhan monotheis, berarti kaum diluar Theisnya bisa disebut Atheis (karena tidak percaya kepada Tuhan-nya). Bagaimana dengan bunyi Pancasila sila pertama kita? KeTuhanan Yang Maha Esa? bagaimana korelasinya dengan konsep Pluralisme? dimana kita mengakui semua eksistensi agama dan tuhannya? sementara dalam Pancasila kita mengakui adanya supremasi satu Tuhan (Monotheis). So, Who’s God?

Jika seorang individu mengakui Tuhan lain selain Tuhan dia sendiri  berarti individu tersebut bisa disebut sebagai anti-monotheis dengan kata lain individu tersebut adalah seorang Atheis. Dengan menggunakan terminologi di atas, seorang Atheis bisa disebut sebagai anti-monotheis dan juga pro-polytheis. Karena kedua hal tersebut mempunyai makna yang sama.

APAKAH SEORANG THEIS ADALAH SEORANG YANG AGNOSTIC?

Ada wacana dalam kaum Theis jika manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui penciptanya (Tuhan), Tuhan tidak dapat dijelaskan secara nalar dan hanya bisa dijelaskan secara spiritual. Artinya disini manusia tidak mengetahui secara eksplisit keberadaan Tuhan tetapi hanya secara implist (iman) mereka meyakini keberadaan Tuhan.

Agnostic, berasal dari kata gnostein (tahu) dan A (tidak), jadi Agnostik secara harfiah diartikan sebagai “Tidak Tahu”. Kaum Agnostic adalah kaum yang beranggapan bahwa mereka tidak tahu keberadaan Tuhan (secara eksplisit) dan kaum Agnostic secara jelas mengatakan bahwa mereka tidak dapat menggambarkan apa, dimana dan bagaimana Tuhan itu. Tetapi, mereka juga bukan golongan yang tidak mengakui keberadaan Tuhan.

Ketika seorang Theis diminta menggambarkan sperti apa Tuhan-nya, mereka tidak akan bisa bahkan dalam mendefiniskannya sekalipun, tetapi mereka akan menjelaskan secara spiritual. Penjelasan spiritual ini lebih bersifat dogmatis subjektif, karena pengetahuan ini muncul tanpa dasar rasional deskriptif, artinya tidak ada pertimbangan sebab akibat seperti dalam hukum fisika atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang abstrak deskriptif, bisa dijelaskan tetapi sulit untuk digambarkan.

Seorang Agnostik boleh dikatakan lebih realistis dalam memandang realita kepercayaan. Dengan berdasar bahwa manusia itu tidak tahu dan belum tahu maka tidak ada klaim benar dan salah. Dalam pandangan kaum Agnostik, ketidakmampuan manusia dalam membuktikan keberadaan Tuhan bukan berarti bahwa Tuhan itu tidak ada, hal ini karena kaum Agnostik yakin bahwa manusia memiliki keterbatasan penalaran terhadap sesuatu yang abstrak dan imaterial, ketidaktercapaian pengetahuan yang diperlukan dalam membuktikan keberadaan Tuhan tetap diakui memiliki unsur probabilitas bahwa Tuhan ada.

Kesimpulannya, seorang Theis bukanlah seorang Agnostic, tetapi kemungkinan terbesar justru menjadi seorang yang Atheis. Agnostik lebih independen dalam pemikirannya, Agnostik tidak terdogma dalam lingkup percaya atau tidak percaya, ada atau tidak ada. Agnostik secara spiritual justru mengakui kelemahan manusia yang memiliki banyak keterbatasan.

APA PENGARUHNYA  TRILOGISME SPIRITUAL DENGAN LIFESTYLE?

Faith, sudah pasti menentukan gaya hidup seorang individu. Gaya hidup seorang Theis yang terikat dogma kepercayaan yang dianutnya tentu akan berbeda dengan Atheis yang boleh dikatakan semua serba rasional dan liberal. Lebih lagi soal prinsip-prinsip dan cara pandang sosial yang akan berpengaruh terhadap interaksi individu tersebut dengan komunitasnya.

Lifestyle bukan hanya tentang kesehatan, hobi, fesyen, kecantikan, fitness, travelling atau petualangan. Tetapi juga merupakan representasi seorang individu yang merefleksikan sikap, cara pandang, nilai-nilai sosial dan juga bagaimana seorang individu menempatkan dirinya sebagai bagian dari rantai kehidupan (life circle).

GAYA HIDUP HEDONIS

Semua individu tentu ingin bahagia? pasti! ingin senang? pasti! menikmati hidup dengan meminimalisasi sesuatu yang menyakitkan seperti stress atau depresi? pasti! Selamat, Anda adalah seorang Hedonis.

Gaya hidup Hedonis kurang lebih berdasarkan pada prinsip materialisme, sementara materialsme ini kebanyakan dimiliki oleh kaum Atheis. Prinsip ini menitik beratkan kepada pencapaian kepuasan secara harfiah yaitu pencapaian kepuasan yang bisa dirasakan secara langsung.
Ketika seorang individu memenuhi keinginannya seperti untuk fesyen atau keinginan untuk memenuhi hasrat adrenalinnya dengan petualangan, pada dasarnya individu tersebut sedang berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas pemenuhan kebutuhan akan kesenangan secara material.

“Hidup itu singkat, nikmatilah selagi bisa!”, hanya Agnostic yang mempunyai pernyataan seperti ini. Jika dia seorang Theis, maka pernyataannya adalah “Hidup itu singkat, banyak-banyaklah beribadah!”, lalu bagaimana pandangan Atheis tentang kesenangan? “Tuhan itu tidak ada, jadi berhentilah khawatir dan nikmati hidup!”

Untuk mendapatkan gaya hidup yang extremely attractive atau disebut sebagai stunning lifestyle, kita cukup tahu, dimana kita berdiri ,apa tujuan hidup kita dan apa yang kita inginkan. [Adw]

Share this:

Related Post

Music Arranger: Wajib Mengerti Music Theory Profesi music Arranger boleh dikatakan cukup menjanjikan. Tetapi menjadi seorang music arranger juga bukan perkara mudah. Selain punya pengetahuan lua...
Most Wanted Drugs Part II – LSD Lsd (lysergic acid diethylamide) adalah sejenis drug yang menyebabkan sesorang mengalami keadaan psikedelik (manifestasi otak) yaitu suatu kedaan dima...
Politik dan Kapitalisme dunia musik Berbeda tetapi tetap satu. Itulah musik. Apapun genrenya, musik tetaplah suatu media hiburan. Tidak mencerminkan taste atau tingkat pendidikan. Justru...
Band Promo Package Saat ini, banyak band-band baru muncul tetapi kemudian tenggelam atau tidak ada yang mengenal. Tidak ada salahnya untuk me-review kembali strategi apa...
The world is a battle ground: True or false? Hidup adalah ujian. Bahwa hidup ini hanya sementara, dan selebihnya kita akan berada disuatu alam dimana kita akan dinilai hasil ujiannya di dunia. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *